Skip to content

Hitung zakat profesi

June 22, 2011

Assalammualaykum brother & sister,

Menuju tanggal 25 setiap bulannya biasanya para karyawan mulai cengengesan sambil ngecekin saldo di ATM atau harap-harap cemas dapet sms notification ada debit uang yang masuk ke rekeningnya.🙂 Yup, gaji (upah/ Ijarah) itulah yang pasti diharapkan oleh para karyawan atas hasil kerja kerasnya selama sebulan kerja pontang panting.

Gaji (Ijarah) merupakan upah yang diterima pekerja (musta’jir) atas hasil kerja yang telah dikerjakan kepada si pemberi upah (mu’jir).

Barang siapa yang mempekerjakan pekerja beritahukanlah upahnya” (HR. Abdurrazaq)

Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah & Ibnu Umar)

Nah, landasan sunnah diatas kayaknya bikin senyum para karyawan makin sumringah aja nih, termasuk gw pastinya🙂. Karena ternyata ada hadist yang membela hak-hak para pekerja untuk mendapatkan imbalannya. Bahkan sebaiknya upah itu dibayarkan sebelum habis “keringatnya”. Kalo keringetan tiap hari apa dibayar tiap hari juga tuh upahnya? hahaha… itu sih ngarep.com semua karyawan sedunia. Maksudnya “habis keringatnya” itu sebelum habis masa akadnya bro sis!! (bulanan contohnya).

Okeh, setelah gajian tanggal 25 itu apasih yang kita lakuin? Shopping!!! Inilah mayoritas jawaban orang-orang. Beli ini beli itu dan gak terasa baru seminggu gajian eh saldo langsung red alert alias kantong kering. hahaha…. Belanja itu wajar asalkan belanja kebutuhan bukan belanja keinginan.

Nafsu beli gadget baru, accessories, masuk mall tiap hari eh liat ada yang lucu dibeli juga padahal gak tau tuh buat apaan. Sebaiknya sih ditahan atau malah dihilangkan pengeluaran konsumtif semacam itu. Ganti dengan pengeluaran untuk investasi yang bisa bertambah nilainya untuk ke depannya. Tapi berhubung gw bukan financial planner jadi gak gw bahas panjang lebar yah.

Jump on to other thing, apalagi alokasi dari upah yang kita dapatkan dari gaji itu? Ada diantara bro & sis yang berfikir untuk zakat. Yes, zakat!!

Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang ketiga. Yang artinya untuk melengkapi “five pillars of Islamic obligation” kita harus membayarkan zakat. Nah untuk karyawan bagaimana sih caranya untuk membayar zakat. Yang gw mau coba share di sini zakat harta yah (zakat profesi) bukan zakat fitrah (zakat jiwa).

Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi tersebut misalnya pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta.

Nisab zakat pendapatan/profesi mengambil rujukan kepada nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras. Hal ini berarti bila harga beras adalah Rp 4.000/kg, maka nisab zakat profesi adalah 520 dikalikan 4.000 menjadi sebesar Rp 2.080.000.

Menurut Yusuf Qardhawi penghitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara dan keduanya dibenarkan:

1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5 persen dari penghasilan kotor secara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulan, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5 persen x 3.000.000 = Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.

2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5 persen dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang penghasilannya pas-pasan. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000 dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap bulan, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5 persen x (1.500.000-1.000.000)=Rp 12.500 per bulan atau Rp 150.000 per tahun.

Untuk lebih mudahnya coba deh bro & sister cek penghasilan masing-masing pake kalkulator zakat.

Mudah2xan bisa menjadi pengingat bagi kita yang tempatnya lupa dan bisa jadi ilmu baru bagi yang belum mengetahuinya. Bagaimanapun juga zakat merupakan kewajiban bagi semua muslim untuk mengeluarkan sebahagian hartanya karena adanya hak bagi kaum fakir miskin dan anak yatim yang Allah SWT titipkan melalui rejeki yang kita terima.

Barakallahumma fiikum,

Wassalammualaykum.

 

Sources :

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/08/11/08042171/Menghitung.Zakat.Profesi

http://www.pesantrenvirtual.com/zakat/calculator_baru.shtml

 

 

2 Comments leave one →
  1. nanang permalink
    June 23, 2011 7:48 am

    Pemasukan bulanan yang disebut oleh para pegawai dengan nama gaji (bulanan), apabila digunakan dan selalu habis, maka tidak ada zakat padanya.

    Zakat itu diwajibkan dengan beberapa perkara:

    Satu: Harta yang terkumpul telah berlalu padanya satu haul yaitu satu tahun
    Dua: Hendaknya telah mencapai nisabnya

    Apabila telah berlalu satu haul dan telah sempurna, bersama pemilikan, serta mencapai nisabnya, maka diwajibkan padanya zakat, baik itu gaji bulanan, atau harta yang yang dia simpan selain dari gaji bulanannya, atau selainnya, maka wajib zakat senilai 2,5% pada harta yang ada.

    Tidak ada zakat pada suatu harta hingga telah berputar padanya satu haul (satu tahun). Maka bila engkau telah menghabiskan gaji tersebut, maka tidak ada zakat terhadapmu. Apabila engkau menyimpan gaji tersebut seukuran nisabnya, maka wajib zakat terhadapmu bila telah berputar satu haul pada harta simpanan itu…

  2. yudhobaskoro permalink*
    June 24, 2011 10:09 pm

    Terima kasih atas komentarnya mas nanang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: