Skip to content

Military Course part II – END

November 13, 2011

Assalammualaykum Wr.Wb brother and sister,

This slideshow requires JavaScript.

Sesuai dengan janji yg gw sampein di post sebelumnya untuk ngelanjutin cerita tentang latihan militer di Pengalengan. FYI, saat ini gw ada di Cepu sebagai lanjutan training gw dalam program dari perusahaan. Beberapa dari kalian mungkin udah ada yang pernah denger dan gw yakin banyak juga yang belum pernah denger nama kota Cepu. Bagi yang terlibat di industri migas pasti udah gak asing nama kota ini.

Cepu, kota kecil di daerah Blora, Jawa Tengah yang saat ini menjadi salah satu primadona di industri migas karena sedang dilakukan eksplorasi yang katanya punya kandungan mineral khususnya gas bumi yang sangat besar. Selain itu di Cepu terdapat STEM (Sekolah Tinggi Energi dan Mineral) / Akamigas (Akademi Minyak dan Gas Bumi) yang merupakan bagian pusdiklat dari Departemen Energi & Sumber Daya Mineral. Lebih lengkapnya insha allah nanti gw posting tersendiri mengenai kota ini yah🙂

Singkat kata di Cepu akses internet agak sunyi senyap, gw sbg customer loyalnya si Ahay punyanya Bakery yah terpaksa gigit jari karena jaringannya gak masuk sampe ke sini. Terpaksalah gw cari modem lain tuk bisa akses internet. Itulah beberapa excuses kenapa gw agak telat melanjutkan postingan.. (alibinya kuat nih) haha

Dan Apabila…

Nah ini lagi2 jargon yang kita dapetin selama masa pendidikan militer di Pengalengan. Ada salah satu pelatih kami yaitu Danki I yang sering menyebutkan kata ini. Oh ya sebelumnya gw jelasin sedikit, kalau para tentara di sana hanya mau dipanggil komandan/ pelatih/ pembina. Nggak ada kata pak, bapak. Kalau keceplosan ya siap2 aja dikasih hadiah pompa bumi alias push up… hehe

Selain itu penjelasan sedikit mengenai istilah2 dalam pasukan, satu kelompok itu disebut dengan Pleton. Untuk siswa terdiri dari 4 pleton, sementara untuk siswi terdiri dari 3 pleton. Komandan dari pleton di sebut Danton (Komandan Pleton) biasanya berpangkat Letnan dibantu oleh Banton (Bantuan Pleton) berpangkat Sersan. Untuk keseluruhan siswa disebut Kompi I dan komandannya disebut dengan Danki I(Komandan Kompi). Berlaku sama untuk siswi juga. Struktural lanjut ke atas dari Kompi yaitu Pasiops (Kepala Sie Operasi) selanjutnya Wadanlat (Wakil Komandan Latihan) dan paling tinggi adalah Danlat (Komandan Latihan). Nah bingung2 deh lu pada haha… ya udah anggep ngerti aja dah ya.

Nah satu cerita kocak ini karena kebiasaan Danki I yang ketika upacara/ apel sering sekali mengatakan kata “Dan apabila…”. Pada awalnya kitapun gak terlalu memperhatikan, hanya cara penyampaiannya aja yang kaku yah pikir kita maklum aja. Tapi kok, kata2 pamungkasnya itu dipake terus. Akhirnya setiap kali beliau kasih pengarahan dalam apel/ upacara malah diitungin… “Dan apabila…”,”1xcuy”, “Dan apabila” 2x cuy…  wah sampe 9x cuy!! Rekor!!” kata barisan yg dipojok belakang. Malah kebiasaan ini suka dijadiin taruhan bakalan berapa kali nih kata pamungkas bakalan diucapin..hahaha

Latihan Berganda 

Nah ini merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh para calon tentara yaitu melakukan survival di luar tempat pelatihan. Sebenarnya sih emang konsepnya survival tapi dikondisikan sih buat kita semua. Dalam kondisi riil, survival hanya dikasih beberapa batang korek api, air minum di pelpes, mencari makanan sendiri dari alam bisa berupa tumbuhan, bahkan ular sekalipun di hutan. Tapi karena disesuaikan ya kami dibekali parafin, kompor lapangan, indomie, sarden, abon, beras, energen, de-el-el de-el-el… haha survive bener dah kita pokoknya😀

Agenda dalam latihan berganda ini dalam satu regu terdiri dari 12 orang dan start awal kami membawa ransel di punggung penuh dengan peralatan (beratnya +/- 10kg) sejauh sekitar 5 km dari home base ke perkemahan dekat danau. Di sana kami dikondisikan dalam keadaan perang dimana bivak (tenda) dibuat menjelang gelap dan harus dibongkar (menghilangkan jejak) sebelum matahari terbit.

Malam pertama awal gw membuat bivak dgn 2 rekan lainnya, masak makanan menggunakan misting (alat masak lapangan) dan parafin. Hasilnya jeng…jeng… Paraaaahh!! haha… Yah maklumlah, failures sana sini ada aja dari mulai bivak yang gak kokoh dan harus bongkar ulang, masak nasi yang gosong, bikin mie rebus campur rumput (baca : vitamin :p) dan banyak lagi kekacauan lainnya. Perkarapun belum selesai malam itu hujan deras dan tenda kamipun kemasukan air, walhasil alas tidur basah kuyup terpaksa menyingkir tidur diluar pake sleeping bag bareng dgn “pengungsi” lain yang kebanjiran tendanya.

Di hari kedua kami dituntut berkelompok untuk membuat rakit dan diberi tugas untuk menyeberangi danau, suatu hal yang baru dan seru walaupun kaki gw sempet berdarah kena pecahan kulit kerang😀 but, all went well and we were fun really. Pada malam berikutnya diadakan “caraka malam” yaitu semacam jurig malam waktu dulu pramuka. Yup, berkelompok kami di beri misi membawa suatu informasi dan mendapat  bermacam gangguan dalam perjalanan, kami diberi sandi dalam berkomunikasi jika bertemu orang lain dalam perjalanan. Kalau lawan bicara menjawab sandi dengan benar artinya dia adalah sekutu kita sebaliknya jika salah mereka adalah musuh.

Nah saat caraka malam ini bagi kelompok kami waktunya terlalu sore yaitu sekitar pukul 20.00 malam, walaupun kami melalui perkebunan bahkan kuburan sekalipun tapi masih terdengar jelas suara karaoke dari hotel depan perkemahan. Ya, ga ada serem2nyalah… haha. Meskipun gitu, tetep ada keseruan disitu contohnya di post perabaan gw lolos dari hukuman push up karena berhasil nebak 3 jenis bumbu dapur!! sementara temen gw salah nebak semua itu nama bumbu dapur!! what an achievement rite!! :p Di post gangguan kami masuk ke kuburan dan bau kemenyan disitu diselingin hantu-hantuan cukup bikin teriak2an… hahaha

Di hari ketiga kami melakukan kegiatan fisik yaitu HTF (How To Fighting). Dalam kegiatan ini dibuat rintangan buatan diantaranya; jaring pendaratan, naik ke bukit pake togel (semacam tali tambang), turun bukit, jembatan tali satu dan meluncur dari bukit (semacam flying fox) dan akhir dari kegiatan ini kami berbivak di gunung. Esok harinya kami kembali ke home base dengan melakukan long march sejauh 5 km. Latihan berganda merupakan puncak implementasi dari pelatihan fisik yang setiap hari kami terima selama pelatihan.

Renungan Suci

Selama waktu pendidikan Susbintal sekitar 27 hari ini, seluruh peserta menggunakan nama suci. Nama suci merupakan sebuah nama yang disematkan di dada peserta sebagai suatu “pemurnian” diri selama pendidikan. Oh ya, gw mendapatkan nama suci yang sangat simpel “MON”. Ternyata “MON” itu merupakan istilah migas kepanjangan dari “Motor Octane Number“. Jadi temen2 peserta gw gampang juga inget nama suci gw…hehe

Renungan suci merupakan peluruhan dari identitas nama suci kita. Jadi saat acara renungan suci, nama suci yang selalu menempel di dada kita dibakar di api unggun dan kita semua diharapkan menjadi pribadi asli kita dengan jiwa yang baru. Cerita seru sebelum renungan suci adalah adanya pemberitahuan bahwa akan adanya pendadakan. Itu semacam serbuan musuh ke dalam markas kita. Nah ketika sudah dikasih tahu oleh pelatih mengenai hal ini, kami semua di barakpun kyk main strategi perang2an deh. Kita semua waspada semua, sampe2 semua tidur pake baju PDL lengkap + sepatu… haha. Nah ketika si piket barak melihat ada yang mencurigakan kita semua dibangunkan untuk segera tiarap di samping barak.

Dan malam pertama itu ternyata nyarissss sekali kita kemasukan musuh karena mereka sudah disamping dan kokangan senjata terdengat tapi karena ketahuan oleh kita merekapun gak jadi menyerang.

Nah di malam selanjutnya inilah kejadiannya…

Saat itu semua sudah siap seperti biasa, tidur dengan baju PDL + sepatu juga. Tapi memang karena hari itu sudah ditentukan sebagai malam renungan suci akhirnya kejadian deh. Musuh (pelatih) berhasil masuk menyerang diawali dengan ledakan bom TNT!! Yup, that was a real detonation!! Para pelatihpun menggunakan senjata dan menembakkan ke langit. Langsung saja semua orang di barak kocar-kacir gak karuan bak suasana perang sungguhan…haha

Kamipun semua dikumpulkan didepan Komando Latihan diselingi teriakan sana sini, jalan jongkok, dll. Pusat dari renungan suci ditempatkan di suatu lapangan yang sudah disiapkan dengan api unggun untuk membakar nama suci, dan media screen untuk pemutaran video.

Puncaknya satu persatu dari kami hormat dan mencium bendera merah putih, setelah itu melempar nama suci kita ke api unggun. Cukup haru suasananya, mata gw sempet merah saat itu (ga mau dibilang nangis ah…haha). Setelah itu kami melingkari api unggun dan seraya bersumpah untuk berbakti terhadap bangsa negara dan perusahaan pastinya (iklan titipan ini mah)🙂.

Wah, memang pengalaman yang satu ini merupakan suatu hal yang baru dan kalau mau diceritain detail semuanya ya kemungkinan gw harus bikin domain blog baru saking banyaknya itu cerita.🙂

Beberapa makna yang bisa dipetik dalam Kursus Pembinaan Mental ini antara lain ;

1. Kedisiplinan

Value dalam kedisipilinan merupakan sasaran utama diadakan kegiatan Susbintal ini. Peserta ditanamkan sikap kedisiplinan di segala aspek. Kedisiplinan itu melingkupi disiplin pribadi, disiplin waktu, disiplin lapangan. Kegiatan yang dimulai sejak kita bangun tidur di waktu subuh hingga kami tidur di malam hari, ke semuanya itu telah direncanakan waktu dan kegiatannya.

Pondasi awal ini bekal bagi kami semua untuk diimplementasikan di dunia kerja nanti. Sebagai perusahaan milik negara, faktor disiplin menjadi substansial bagi para karyawannya. Bagaimanapun juga masyarakat umum akan melihat dengan jelas para “abdi negara” ini dalam melakukan pekerjaannya. Sebuah tanggung jawab moral memang secara tidak langsung akan dibebankan kepada kami nantinya.

2. Loyalitas

Sikap loyalitas merupakan suatu hal yang memang dijadikan suatu didikan bagi kami. Beberapa contoh kecil dari praktek loyalitas diantaranya adalah rasa patuh dan taat kepada pemimpin kelompok baik dari para pelatih ataupun rekan kita sendiri. Instruksi dan aturan yang diberikan oleh pimpinan harus kita kerjakan dengan baik tanpa melakukan suatu diskoordinasi. Itulah sebenarnya makna dari loyalitas yang coba ditanamkan kepada kita selama masa pendidikan.

3. Jiwa Kebersamaan (Korsa)

Didalam dunia militer kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kekompakan diantara pasukan militer tersebut. Disaat suka dan duka mereka lalui bersama, disaat kawannya mendapatkan kegembiraan mereka lalui bersama termasuk disaat mereka mendapatkan suatu penderitaan juga dilalui dengan kebersamaan.

Tujuan yang sama coba ditularkan kepada kami semua. Dapat dimaklumi karena latar belakang kita semua yang berbeda dan baru ketemu dengan yang lainnya selama mengikuti pendidikan ini. Kebersamaan harus ditanamkan agar saling mengenal satu sama lain. Mencoba menghilangkan sifat individualis dengan menekankan nilai kebersamaan satu rasa.

Jiwa kebersamaan yang ditanamkan ini pada akhirnya akan melebur menjadi suatu sifat empati antar satu dengan yang lainnya. Coba kita bisa lihat bagaimana para tentara itu dengan sesama rekannya bukan hanya dekat secara profesi saja tapi mereka bahkan sudah menganggap rekan-rekan lainnya itu sebagai bagian dari keluarganya.

Pada akhirnya gw dapat mengambil hikmah dari keseluruhan pendidikan militer ini. Bahwa terkadang proses transformasi diri itu harus dilalui melalui suatu perjalanan pahit. Pendidikan selama satu bulan itu hanya sekadar sinopsis dalam suatu agenda hidup kita untuk menjadi lebih baik. Mengajarkan kita bahwa hidup itu hanya satu kali dan kita harus bisa mengisi waktu yang diberikan oleh Allah SWT dengan bijak.

Kami memang cukup beruntung pendidikan militer ini hanya berjalan satu bulan dimana kami mendapatkan suatu posisi diri kita di suatu zona yang tidak nyaman. Lihatlah keluar sana!! mayoritas dari masyarakat Indonesia dan di belahan negara lainnya harus menghadapi zona ketidaknyamanan ini setiap harinya!! Rasa syukur dan tawadhu’ seharusnya bisa kita tunjukkan sebagai manusia yang diberikan kemudahan hidup oleh Allah SWT. Semoga melalui tulisan ini kita semua diberikan petunjuk hidup yang baik oleh Allah SWT… Amin YRA

5 Comments leave one →
  1. Muhammad Faruq Mustadjab permalink
    November 13, 2011 11:06 am

    Nice !!!
    Kami tunggu tulisan Om Mundo berikutnya…

  2. yudhobaskoro permalink*
    November 13, 2011 12:03 pm

    Insha allah…

  3. angga permalink
    November 13, 2011 12:18 pm

    Dan satu hal lagi om, jiwa KSA nya mana? kok gak dtampilin di tulisan..
    ngomong2 soal semen, numpang nyontek tugas NLPnya

  4. benisuryadi permalink
    November 20, 2011 7:52 am

    Cerita yang menarik.
    Membuat saya teringat kembali masa-masa lama.
    Dulu juga pernah mengikuti kegiatan seperti ini waktu kuliahh, dua bulan malahan, satu bulannya survival, di tinggalin di hutan dengan tiga ekor ular buat makan.
    Ampun-ampunan dah, hehehe…….

    Tetapi banyak sekali pelajaran dan hikmahnya.

    Sukses ya buat kegiatannya, semoga berkah.😉

  5. yudhobaskoro permalink*
    November 20, 2011 3:30 pm

    Trims atas komennya mas beni. Salam sukses juga…

    btw, mas beni ternyata seumuran dgn saya dan sudah jd ASEAN energy expert.
    Salam kenal dan sukses terus mas beni!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: